Selasa, 01 Juni 2010

perkenalan balik


maaf sebelumnya saya langsung mengawali blog ini dengan sebuah catatan isi hati sederhana yang saya tuangkan lewat puisi yang bejudul LANGKAH.

sedikit saya ingin menjelaskan bahwa puisi tersebut bercerita tentang kegalauan hati seorang anak di perantauan jauh, baik yang sedang menempuh study atau yang sekedar mencari nafkah untuk keluarga di negri orang.

puisi itu juga mengisahkan kerinduan seorang anak yang begitu menggebu, ingin segera bertemu dengan orang tua tercinta dan bekumpul bercengkerama kembali seperti dulu, namun karna jarak yang begitu jauh sang anak hanya bisa menyimpan kerinduan itu dan menyempatkan diri menuangkan air mata tintanya diatas selembar kertas usang.

ibunda dan ayahanda anakmu merindukanmu.

Senin, 31 Mei 2010

LANGKAH

Langkah…

Merangkak jauh merengkuh jingga
Melangkah panjang gilas sang waktu
Melaju penat menuju
Berkelana mengembara pulau asa

Keluh engkau tepis
Peluh engkau “ what this “
Kesah dikau basuh
Spiritmu kian terasah

Di lintasan garis uletmu
Engkau selipkan tanggung jawab
Di lingkaran poros gagahmu
Engkau sisipkan kasih sayang

Mengucur darahmu
Basahi raga lugu kami
Mengelupas dagingmu
Membekas gemilang jiwa kami
Remuk tulangmu
Kukuhkan pilar hidup kami

Jiwamu tak pernah mati
Bathinmu ikhlas seluruh

Duhai darahmu mengalir titi denyut nadi kami
Wahai dagingmu mendekap dalam panji tubuh kami
Oh.. tulangmu menopang keping rangka raga kami

Adakah kami acuh dari seru lirihmu ?
Adakah kami membantah petuah tulusmu ?

Di saat engkau lelah .. ?

Titah teranugerahkan tiada ragu
Mengalir aliri lorong jiwa hampa
Memberi warna – warni mempesona
Sungguh tak dapat dipungkiri

Kini …
Kami jauh …
Di sini …
Di tempat ini …


Tapaki jalan baru kami
Tumpu sumbu cita citra kami
Dalam sendi moral engkau bina
Jejaki asa yang tersisa

Kian jauh …
Semakin larut …
Seakan lenyap …
Resap pekat dalam pengap dunia …

Sontak terbayang
Terbersit berbaris tertulis rapi di pikiran

Wejanganmu …
Nasehatmu …
Petuahmu …

Kami rindu …

Duh … penerang jiwa gelap kami
Jangan biarkan kami
Jauh berpaling
Jangan biarkan …



Walau kami di sini
Dan engkau di sana
Jauh terbentang samudera jagad raya
Dan kami melangkah tanpamu
Tanpa arahanmu

Namun …
Do’a sucimu
Adalah energi di atas energi
Bagi jalan hidup kami

8may2010

Minggu, 30 Mei 2010

MATA DAN AIR



Tak mudah memejamkan mata disaat mata itu sendiri menitikkan air mata

Tak mudah menerjemahkan setitik tetes air mata dikala hati tak kuasa menafsirkan sekelumit sirkulasi hidup yang kian bergejolak

Dan

Gejolak hidup yang meledak menguraikan bahwa jiwa yang tenang harus memahami diri seutuhnya

Dan

Pemahaman diri akan tumbuh seiring gejolak-gejolak yang memuncak dalam jiwa, haus akan arti hidup sesungguhnya

Dan

Adalah titik air dimalam hening gelap gulita menetes di ulu sanubari mencipta sinfony terindah menyejukkan

Dan

Aku disini adalah kesunyian malam itu, merindukan nada beraturan yang tercipta oleh titik air yang jatuh di tenang kolam kehidupan

Dan

Biarkan hanya aku dan malam menerjemahkan dialog antara aku dan dia

Dan

Hanya bahasa malamlah sangat memahami kata-kata tak terucap yang ingin tergambar

Dan

Kucari jiwaku di gelap malam, hingga kudapat memeluknya di ujung malam

Dan

Kusambut uluran tangan jiwaku berlari menyambut sang fajar yang menebarkan senyum pagi

Dan

Takan kulepas tangan jiwaku sepanjang hari hidupku

Kueratkan gandengan tangan agar dia takan lepas dariku. 9may2010